Showing posts with label Taman Bunga. Show all posts
Showing posts with label Taman Bunga. Show all posts

Monday, 17 December 2012

Didik dan Tarbiyahlah Diri Kalian

"Didik dan tarbiyah-lah diri kalian agar menjadi representasi dan dakwah Islam. Bergaulah dengan objek dakwah kalian, di sekolah, di kampus, di masjid, di lingkungan RT/RW, di kantor, di tempat kerja, di jalan, di pasar, di mana saja! Kenalilah mereka, pelajarilah seluk beluk hati nurani mereka, lalu masuklah melalui pintu-pintunya, insyaAllah kalian akan menjadi penyebab terhidayahnya banyak orang! Jika hal itu terlaksana, kita mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada kekayaan yang paling berharga (humrun na'am)"
awali dari diri sendiri
awali dari keluarga

maka, dengan izin Allah, Islam akan semakin tegak di muka bumi ini

*sumber : Taujih Musyaffa Andurrahim

TTD curhatibu.com

Sunday, 4 November 2012

Berikanku Cinta yang Kau Titipkan

"Tuhanku... Berikanku cinta yang Kau titipkan... Bukan cinta yang pernah kutanam"
Saya suka dengan pernyataan di atas. Entahlah, mengapa. Apa mungkin karena hal itu yang semestinya kita pinta? Karena memang benar adanya dengan nurani, yang selalu membenarkan setiap kebaikan yang dilakukan, dan pasti gundah dengan kesalahan atau kebatilan diri? 

Semestinya, saya lebih berhati-hati dengan hati. Ini terkait dengan cinta.
Antara cinta yang Allah titipkan, atau cinta yang pernah saya tanamkan. Ketika cinta yang tumbuh adalah yang Allah titipkan, maka ia akan tumbuh pada saat yang tepat. Ia tumbuh bersama pahala yang berdatangan karena setiap perilaku atasnya adalah perintahNya. Ia akan menumbuhkan tunas-tunas baru berkualitas, karena keberkahan perjalanan menumbuhkan cinta itu. Ia akan senantiasa kekal, karena ia nya diserahkan pada sang Penjaga yang tak pernah Tidur.. Dan cinta itu akan berakhir di surgaNya, dengan izin dan ridhaNya...
Lalu bagaimana dengan cinta yang sebaliknya? cinta yang saya tanam? Pasti saya menanamnya pada saat yang tidak tepat, pada saat saya belum siap menanggung setiap konsekuensi atasnya. Ia pun tertanam pada orang yang tidak tepat. Belum tentu ia terpilihkan untuk saya. Atau kalaupun ia terpilihkan untuk saya, keberkahan pertumbuhannya akan terhambat, terganggu, atau bahkan rusak. Jika bukan ia yang terpilihkan, pastinya akan merusak cinta yang faktanya saya dapati. Bulatan cinta saya akan tergores, atau retak di tepi. Pun jika itu tak terjadi, saya tak bisa menjamin, akan mampu merawat hati saya pada seorang yang telah membersamai, kala saya bertatap kembali dengan cinta yang pernah saya tumbuhkan. 

"Ya Allah... Berikanku cinta yang Kau titipkan, bukan cinta yang pernah ku tanam. "

Bisa saja kemudian Kau berikan saya cinta yang saya tanam, yang pastinya saya inginkan dan harapkan . Tapi saya tahu, itu tak akan seindah jika Kau beri saya cinta yang Kau titipkan. Maka, bersihkan hati ini atas cinta-cinta yang telah, pernah, atau mungkin sedang saya tanam pada seorang atau dua orang di sana. Sucikanlah hati ini... Jagalah hati ini... Agar ia (hati) senantiasa siap menerima kedatangan cinta yang Kau titipkan, kapanpun itu. Meski harus menanti tiba masa nya, atau justru terkaget atas hadirnya tiba-tiba. Ya, agar ia (hati) siap menempuh kehidupan bersama (hati) pemilik cinta yang Kau titipkan. Agar ia nya siap meraih hikmah dari setiap suka duka yang pastinya saya akan jalani bersama cintanya. Dan nantinya saya merengkuh cintaMu bersamanya, cinta yang Kau titipkan untuk saya...

(sebagaimana telah di-posting di primary blog Si Mbak : cahayaembunfajar.blogspot.com)

Friday, 2 November 2012

Hanya Menanti Kesiapan

merenung
Bukan tak mengabulkan, hanya menunggu kesiapan. Kesiapan siapa? Kesiapan kita menerima terkabulnya harapan. Siap syukur jika sesuai ingin, siap sabar jika tak sesuai ingin. Dan yang pasti, siap menerima segala konsekuensi yang pasti akan membersamai setiap pengabulan. Konsekuensi syukur, dan konsekuensi sabar. Jadi, apakah kau sudah siap?
Ya, dan Allah lebih tahu. Allah lebih paham.
Bukan tak mengabulkan, hanya menunggu kesiapan. Kesiapan siapa? Kesiapan seorang anak sekolah untuk menjadi seorang mahasiswa. Kadang susah, sulit, ribet, harus ujian dan sebagainya. Banyak yang tidak berhasil. Lagi, hanya menunggu kesiapan.   Kesiapan menjadi seorang mahasiswa. Kesiapan lulus di PTN A, B, C; PTS D, E, F; atau PTK. Kesiapan untuk bersyukur, bukan takabur. Kesiapan untuk menabung, bukan menghambur. Kesiapan berjuang, bukan kalah perang. Karena medan kampus tak semulus sekolah menengah. Karena medan kampus tak sepolos medan di sekolah. Ia belum siap konsekuensi.
Bukan tak mengabulkan, hanya menunggu kesiapan. Kesiapan siapa? Kesiapan seorang gadis alumni sarjana. Menenteng stopmap kesana kemari. Berbincang wawancara ini dan itu. Menata hati dan degup setiap penyampaian keputusan. Dan mungkin dia belum siap. Belum siap bersyukur atas kerjaannya nanti. Hingga yang ada, bukan penambahan kualitas diri, malah kelalaian karena gaji telah pasti. Hingga yang ada, bukan tambah merengkuh dekat pada Illahi, malah mencaci kalau panggilan-Nya mengingati. Hingga yang ada, haram halal tak dirasa berbatas, langsung lahap tak tebang pilih. Ah, hingga yang ada, bukan kebaikan, malah kesengsaraan.Ia belum siap konsekuensi.
Bukan tak mengabulkan, hanya menunggu kesiapan. Kesiapan siapa? Kesiapan seorang gadis dewasa, telah bekerja dan bergaji raya. Namun, menanti sang kekasih hati tak jua menyapa. Di mana oh di mana. Ke mana lagi ke mana. Tak mengerti, padahal doa telah pasti. Ya, mungkin hanya menunggu ia bersiap sabar. Ya, siap sabar. Karena berumah tangga tak sederhana. Butuh mental dan ilmu nyata. Tak melulu bahagia, namun sedih pasti ada. Kecewa, bisa jadi biasa. Belum lagi, harus saling mengerti. Pemahaman yang tak bisa diperoleh singkat. Butuh waktu, pemikiran serta tenaga. Ya, biarlah. Tak apa. Mungkin ia memang belum siap dengan konsekuensi yang ada.
Bukan tak mengabulkan, hanya menunggu kesiapan. Kesiapan siapa? Kesiapan seorang istri tuk berganti status menjadi ibu. Menanti sekian tahun tak jua diberi. Mengusaha sekian waktu, janin belum juga terdeteksi. Hm. Mungkin, memang hanya butuh waktu. Menunggu hingga sang istri siap. Karena tugas ibu tak ringan. Karena ilmu yang dipersiapkan tak hanya penjumlahan pembagian. Ada banyak kecakapan harus dipersiapkan. Ada banyak ilmu harus dimatangkan. Belum lagi, si bakal calon ibu itu masih belum sepenuhnya paham tentang kewajibannya sebagai seorang istri, apalagi nanti saat status ibu di tangan. Biarlah waktu diberi untuk ia menyiap diri. Ya, karena akan sangat banyak konsekuensi dan tanggung jawab dalam mendidik generasi terbaik. Dan ia, harus bersiap.
Bukan tak mengabulkan, hanya menunggu kesiapan. Kesiapan siapa? Kesiapan siapa-pun, yang telah berani bermimpi, berdoa, dan berikhtiar. Ingat, hanya untuk yang berani bermimpi, berdoa, dan berikhtiar. Kesiapan ia menerima terkabulnya mimpi yang telah di-doa dan di-ikhtiar-i. Siap syukur jika sesuai mimpi, siap sabar jika tak sesua ingin. Dan yang pasti, siap menerima segala konsekuensi yang pasti akan membersamai setiap pengabulan. Konsekuensi syukur, dan konsekuensi sabar. Jadi, apakah kau sudah siap?
Ya, dan Allah lebih tahu. Allah lebih paham. Bahwa mungkin, kita belum siap menerima konsekuensi. Maka saatnya berpikir, belajar lebih rajin, menyiap lebih tegap. Hingga akhirnya, pengabulan akan dibersamaan dengan kedewasaan bersikap. Menerima konsekuensi dengan mantap. dan lihatlah, Allah memang lebih mengenal makhluk yang diciptakan-Nya. Hanya syukur dan sabar, senjata kita. dan Tawakkal berserah, pemanisnya.
Dari Suhaib r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut merupakan hal terbaik bagi dirinya.” (HR. Muslim)
-----------------------------------------------------
Tulisan ini ditujukan untuk rekan-rekan yang sedang kecewa tidak beroleh mimpinya; untuk para wanita yang tengah berputus asa menanti jodohnya; untuk para istri yang berpasrah menanti sang janin tercipta; dan bagi siapapun, yang mimpi dan doa belum diiring pengabulan atasnya. 
Diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah itu pemalu dan murah hati. Apabila ada seorang hamba mengangkat kedua tangannya memohon sesuatu kepadaNya, Allah malu untuk menolaknya sehingga dia pulang dengan tangan kosong dan sia-sia."
Bukankah tiada doa disampaikan, kecuali tiga: beroleh pengabulan langsung; beroleh penundaan pengabulan; beroleh yang lebih baik dari yang diminta; beroleh pengampunan; atau beroleh surga sebagai pengabulan. 
Wallahu alam  

Thursday, 1 November 2012

Rumahku, Surgaku

rumahku, surgaku
Bukan surga, tapi serambinya
Rumahku hanyalah sebentuk bait
tempatnya melabuh rindu, membagi tawa dan pangkuan,
lalu wewangian surga semilir bersama tahmid
tempat menegak malam dengan zikir
menggigil dan tangis pertobatan
rumahku adalah rasa aman dalam genggam jemari Ar-Rahman
rumahku adalah juga derak kekhawatiran
agar tiada lena dalam fana
rumahkulah kutub yang mendamai hati dan sesenyum rasa
"Masuklah, berselimut, rehat!"
terkadang ia mentari yang menyala, menegur hati dan menggerak
"Keluarlah, dakwah, jihad!"
rumahku perhentian,
tempat iman diperbarui dan ruh diisi ulang
lalu aku harus keluar membukti amalan
rumahku, menawan tenteram, menggerak bandang
rumahku mungkin bukan surga, tapi insya Allah, serambinya
(kutipan dari Bahagianya Merayakan Cinta, oleh Ust. Salim A. Fillah)
Indah bukan, konsep rumah tersebut? Berharap, kita bisa mempersiapkannya. Menguatkannya. Meng-ilmu-i-nya. Memantapkannya. Dan kemudian, mengamalkannya.

Bahwa rumah adalah perhentian sementara, yang akan menghantar kita kepada kekuatan, atau sebaliknya kelengahan.
Bahwa rumah adalah penentu, yang akan memutus kita kepada kebermanfaatan, atau sebaliknya keegoisan
Bahwa rumah adalah penyeru, yang akan mengajak kita kepada kebaikan, atau kemudharatan
Bahwa rumah adalah penyegera, yang akan menyemangat kepada amal, atau melena kepada keterlalaian

Ah, rumahku surgaku... Atau sebaliknya, rumahku nerakaku? -naudzubillah-
Rumahku penghantar kepada surgaku,... atau...?

Berharap, rumah adalah pembangun jiwa, bersama impian yang kan ber-ujud nyata. Melalui tempelan berderet rapi pada dinding penyemangat di setiap sudutnya. Ah, indah. Bahkan bilik jendela membawakan rindu akan ketercapaian visi kehidupan. Bahkan pintu menjadi selaksa doa kala melewat menyeberangnya. Lalu tiap perabot menjadi sarana. Penyambung rekat setiap langkah supaya tercapai cita dengan cepat, dan tepat.

Berharap, rumah adalah lahan pen-tarbiyah. Ia menjadi yang pertama mendidik. Ia menjadi yang utama membina. Karena pengajaran di dalamnya, tak pernah tergantikan. Ianya harus mengawal. Menanam akhlaq dan iman yang mendasar. Hingga masukan selanjutnya menjadi mantap, dasar yang kokoh pencapai lahirnya generasi teladan.

Ah, indah. Karena tiap detik paginya, adalah nasehat tersampai kepada sang anak. Karena tiap dhuhanya, ada pengingat bertaubat pada Rabb pemberi nikmat yang sering terlalaikan. Karena tiap siang yang berdatang dalam dhuhur mengalun adzan, ada dahaga yang tersegar dengan mata air tercurah dalam senda tawa peringan beban kejenuhan. Karena tiap ashar mengambang, ada dzikir tersurat dalam al ma'tsurat pelabuh doa. Karena tiap senja berhadir, ada khusyu, bahwa Allah telah mengampun dosa, dan menerima lapang tiap amal harian. Karena tiap isya berkumandang, ada kebersamaan dengan penyejuk mata, qurrata a'yun. Dan karena tiap sepertiga malam-nya, tersampai ayat suci indah, bergerak berderek menuju langit mengangkasa, menggetarkan arsy, membawa nada taubat dan permintaan hamba dengan jaminan pengijabahan.

Ya, rumahku surgaku. Pengantar menuju kematian yang pasti adanya. Pembekal untuk meraih kebaikan di akhirnya. Khusnul khatimah. Lalu tenang bersemai lentera di alam kubur. Hingga bahagia di surgaNya.

(tulisan ini telah di-posting dalam primary blog Si Mbak, di cahayaembunfajar.blogspot.com)

Menjaga Aib Diri/Keluarga


Padahal, Allah telah menutup aib kita dengan baik. Namun, justru terkadang kita lah yang mengumbarnya ke khalayak. Apalagi dengan sosial media yang telah menjadi santapan sehari-hari. Allah telah menetapkan syariat dengan begitu sempurna. Termasuk tentang pernikahan. Bahwa, "rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan"*. Lagi-lagi untuk menjaga diri (terutama si wanita) dari fitnah yang mungkin terjadi di kemudian hari, atas suatu kondisi yang kita tak bisa memberikan jaminan apa-apa.

Hakikat Menulis - Renungan Pembuka Bilik Cinta

hakikat menulis

Bismillahirrahmaanirrahiim

Sebuah renungan, terkutip dari kumpulan tweet akun Ust. @salimafillah
Semoga bisa mengingatkan, sebelum kita melanjutkan perjalanan mengisi bilik-bilik cinta dalam rumah awan ini
Kalau tidak yakin dengan apa yang kautulis, bagaimana mungkin kau menggerakkan pembaca untuk bertindak? Menulis bukanlah bermain kata-kata. Susunan kalimat yang indah bisa sangat membosankan jika tidak memiliki makna yang kuat. Bukan kecerdasan yang membuat seorang penulis menjadi BESAR. Kehausan pada ilmulah yang membuat tiap goresan pena jadi bermakna.

Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karenanya perhatikan bagaimana ujung penamu bergerak! Seandainya semua orang memiliki kecerdasan yang sama dalam menulis, maka KESABARAN-lah yang akan membuatnya berbeda! Tiada penghambat menulis yang lebih besar dari KETAKUTAN DINILAI. Tiada kendali yang lebih baik dari KETAKUTAN MENEBAR KEBATILAN.

Pengetahuan melahirkan keteraturan berbahasa, sedang kekuatan TUJUAN membangkitkan ketajaman kata. Kalau engkau menulis untuk menyampaikan KEBENARAN, buat apa kausibukkan diri mencari inspirasi? Tiada landasan semangat yang lebih kokoh dari keyakinan pada agama. Tiada penjaga keyakinan yang lebih baik dari NIAT yang bersih.
Subhanallah

Ada beberapa poin yang tatkala membaca dan mengetikkannya saya merasa terhenyak, tertohok. Yang pertama "Bukan kecerdasan yang membuat seorang PENULIS menjadi BESAR. Kehausan pada ilmulah yang membuat tiap goresan pena jadi bermakna"

Okelah, katakan saja, si penulis adalah mahasiswa sastra, yang bisa dikatakan menguasai aneka ragam teori kepenulisan. Dan si penulis adalah seorang yang sangat rajin berlatih, hingga berkembanglah keluwesannya dalam menulis. Entah sudah karya ke-berapa yang dihasilkannya.Namun, kembali, rupanya, ada satu hal yang membuatnya akan berbeda jika dia memiliki pula. Apakah itu?

Ya, "kehausan pada ilmulah yang membuat tiap goresan pena jadi bermakna". Karena setiap rasa haus, ingin disegarkan. Sehingga ia akan mencari dan terus menggali aneka ilmu. Ilmu yang kemudian menjadikan karyanya lebih bermakna, sarat hikmah. Maka benar juga ketika dikatakan, gaya tulisan seseorang tergantung dari jenis bacaan yang dilahapnya. Pun, apa yang dituliskannya, bergantung dari ilmu yang dimilikinya. Karena tak mungkin kita memberi, sedang kita tak memiliki. Tak bisa, atau kalau boleh dikatakan tak sempurna dalam berbagi ilmu, jika kesempurnaan ilmu belum ia dapatkan. 

Maka, menjadi penulis bukan berarti berhenti belajar. Pun bukan berarti berhenti membaca. Menjadi penulis, sesungguhnya adalah "paksaan" untuk kita selalu membaca dan belajar. Membaca dari buku, belajar dari guru. Termasuk, membaca kauniyah, lalu belajar mengambil hikmah. 

Oke, poin yang kedua, ada pada paragraf berikutnya, "Tiada penghambat menulis yang lebih besar dari KETAKUTAN DINILAI. Tiada kendali yang lebih baik dari KETAKUTAN MENEBAR KEBATILAN.". 

Ah ya, sejak kapan kita mendapat pelajaran menulis? Sejak kita mulai belajar, bukan? Tapi, mengapa sampai sekarang kita tidak berani menulis? Ya, minimal menuliskan pendapat kita atas suatu permasalahan. Sayangnya, jarang yang mau dan berani melakukannya. Tak masalah, memang. Apalagi, yang merasa muyul nya bukan di bidang tulis menulis, lebih cocok di bidang lain.Untuk saya pribadi, kalimat ini begitu menghentak. Bahwa selama ini, hal yang paling menghambat saya dalam menuangkan huruf demi huruf, kata demi kata, adalah karena takut jika tulisan kita dinilai jelek oleh orang lain. Dan manakala ada tulisan yang telah saya posting, lalu mendapat kritikan, masih saja ada perasaan kesal. Hal itu menambah-nambah rasa malas dalam menulis. Maka semestinya, memang niat yang harus diluruskan. Toh, kita menulis bukan untuk beroleh penghargaan. Iya kan? Jadi, teruslah menulis dan menulis, jadikan kritik menjadi pematik. Jadikan saran menjadi penajam. Lihatlah, apa yang terjadi.. :)

Maka, seirama dengan frase berikutnya, "Tiada kendali yang lebih baik dari ketakutan menebar kebatilan". Ya, semestinya, ini menjadi pengerem kita dalam menulis. Jangan sampai, apa yang kita tuliskan membawa akibat yang buruk, baik untuk diri kita, maupun untuk orang lain. Jangan sampai, mendzalimi diri dengan mengumbar aib diri. Dan jangan sampai pula mendzalimi orang lain dengan menggibah fitnah tak terarah. Yang pasti, sampaikan kebenaran, bukan sekedar keindahan. Karena indah belum tentu benar. Yang benar, sampaikanlah kebenaran itu dengan indah. Sehingga orang menerima dengan mudah. Ingat, ini menjadi kendali, batasan kita dalam menulis. 

Intinya, ada semangat menulis yang tumbuh karena bebas dari ketakutan beroleh caci saat dinilai. Dan ada rem kendali  dalam menulis, untuk kita lebih berhati-hati menyampai kebenaran, dengan cara yang indah.

Poin ketiga dari hikmah yang saya dapat dari kutipan tweet di atas adalah "Kalau engkau menulis untuk menyampaikan KEBENARAN, buat apa kausibukkan diri mencari inspirasi? Tiada landasan semangat yang lebih kokoh dari keyakinan pada agama. Tiada penjaga keyakinan yang lebih baik dari NIAT yang bersih."

 Bukankah memang benar bahwa, "Kebenaran hanyalah milik Allah". Maka, ketika ada hal-hal yang tidak sesuai dengan yang telah diajarkan Allah dalam Al Qur'an dan Hadits, sudah selayaknya kita singkirkan. Ya, singkirkan dari ruang inspirasi kita.Sumber inspirasi terbesar memang dari ayat Allah. Bahkan, kita hanya diberi sedikit dari ilmu untuk mengambil hikmah yang ada. Maka betapa masih sangat luasnya ilmu Allah. Cari inspirasi? Buka Al-Qur'an, pelajari ayat qauliyah dan kauniyah, ambil hikmah kisah teladan orang taqwa nan shaleh. InsyaAllah, inspirasi itu akan berdatangan, mengalir bak air terjun, deras. 

Keyakinan akan kebenaran agama ini, akan menjadi semangat tersendiri dalam menulis. Karena sungguh merasa ada banyak hal yang harus disampaikan. Sampaikan walau satu ayat. Begitu bukan? Nah, menjaga keyakinan ini hanya akan kokoh jika niat bersih. Bukan untuk dunia, bukan untuk pujian, bukan menghindar cacian. Tapi hanya satu, kita sampaikan kebenaran, hikmah dan kebaikan. Siapa tahu, bisa menjadi tambahan aliran pahala untuk kita. dan terpenting, ia nya akan menjadi pengingat bahwa kita pernah mengatakan kebaikan. Agar tak kabura maktan. 

Oke, demikian saja. Semoga renungan ini berkah. 
Untuk  menutupnya, saya kutipkan lagi doa, dalam tweet yang sama

Ya Allah, jadikan tiap huruf yang mengalir dari jemari ini butir zarah kemuliaan, yang berantai-rantai alirkan pahala kebajikan. Ya Allah, jadikan tiap kata yang berbaris mesra di kalimatku tali temali keberkahan, yang hubungkanku dengan ridha-Mu di tiap helaan.Aamiin

Wallahu alam